karena yang telah aku tulis bukan berarti aku yang menjadi peran utamanya.

Jumat, 27 Februari 2015

Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Cerita Pak Belalang

CERITA PAK BELALANG

Tersebutlah perkataan seseorang peladang tiga beranak, anaknya laki-laki dinamainya Belalang. Oleh sebab itu, semua orang memanggil peladang itu Pak Belalang. Adapun Pak Belalang tiga beranak itu sangat miskin kehidupannya, hampir-hampir tiada apa yang dijadikan makanan.
Pada suatu hari, Pak Belalang mendapatkan suatu akal untuk memperoleh makanan. Disuruhnya anaknya pergi menyembunyikan kerbau orang yang sedang membajak di sawah, kemudian mengabarkan bahwa dia pandai bertenung mencari tempat itu. Si Belalang berbuat seperti suruhan bapaknya. Dengan demikian, Pak Belalang pun mendapat makanan beras, padi, tembakau dan ikan sebagai hadiah. Maka mansyurlah nama Pak Belalang sebagai orang yang pandai bertenung.
Sekali peristiwa, raja di dalam negeri kehilangan tujuh biji peti yang berisi emas, intan, dan lain-lain mata benda yang mahal harganya. Pak Belalang lalu dipanggil untuk menenungkan harta itu dengan ancaman akan dibunuh, kalau Pak Belalang tidak berhasil. Maka Pak Belalang pun berjalan kerumahnya. Dia berbaring di tengah rumah sambil menghitung roti kena minyak di dalam kuali, dan berkata “satu,” menghitung roti. Dengan takdir Allah, pada ketika itu juga kepala pencuri masuk di halaman Pak Belalang. Tatkala Pak Belalang menghitung “tujuh,” ketujuh orang pencuri semuanya sudah masuk ke halaman Pak Belalang. Pencuri-pencuri itu ketakutan. Pada sangka mereka, pastilah Pak Belalang sudah tahu mereka yang mencuri harta baginda. Mereka lalu masuk berjumpa Pak Belalang dan mengaku salah. Dengan demikian, Pak Belalng pun lepaslah dari “bahaya” yang mengancamnya dan mendapat hadiah yang banyak sekali. Baginda juga menggelarinya Ahli Nujum.
Hatta datang pula dua orang nakhoda, seorang membawa itik dan meminta mengenalkan jantan betinanya, seorang lagi membawa kayu yang licin bulat dan meminta baginda menentukan ujung pangkalnya. Kedua teka-teki ini diselesaikan Pak Belalang dengan cara yang kebetulan sekali. Dia mengayuh mendekati kapal-kapal itu dan mendengar jawabannya dari nakhoda kapal pada tengah malam. Sekali peristiwa, istri anak raja di negeri Askalan Rum yang baru kawin tujuh hilang dicuri oelh jin. Pak Belalang lalu dijemput ke negeri itu untuk mencari istri anak raja yang hilang. Berkat bantuan Nabi Khidir yang datang kepadanya dalam mimpi, dia berhasil juga melaksanakan tugasnya, dan dikaruniai harta benda yang banyak.
Sekali lagi Pak Belalang diancam dengan ancaman dibunuh, kalau tidak dapat menerka apa yang di dalam genggaman baginda. Pak Belalang tidak dapat menerka. Pada perasaan hatinya, matilah ia kali ini. Sambil menangis mengenang anaknya yang bernama Si Belalang, dia pun berkata, “Matilah aku, tinggallah, anakku, Belalang” yang di dalam genggaman baginda itu kebetulan adalah seekor belalang. Maka Pak Belalang pun pulang ke rumahnya seraya berpikir didalam hatinya, “Jikalau demikian halnya, baiklah aku bakar rumah ini supaya boleh kukatakan surat-surat ilmuku terbakar sekali dan supaya sentosa kehidupanku, tiada diperiksa baginda lagi.” Maka pada malah hari, Pak Belalang pun membakar rumahnya dan berkata bahwa surat ilmu nujumnya sudah terbakar dan dia tidak dapat menjadi ahli nujum lagi. Maka Pak Belalang pun tiada bekerja lagi, dikaruniai oleh baginda belanja dengan secukupnya.
  


1.    Unsur Intrinsik Cerita Pak Belalang

a.       Tema adalah ide pokok sebuah cerita, yang diyakini dan dijadikan sumber sebuah cerita.
Tema : Kebetulan itu adalah takdir.

b.      Latar  adalah tempat, waktu, suasana yang terdapat dalam cerita.
Latar : 
Tempat :
-       Sawah
Pada suatu hari, Pak Belalang mendapatkan suatu akal untuk memperoleh makanan. Disuruhnya anaknya pergi menyembunyikan kerbau orang yang sedang membajak di sawah”
-       Rumah
“Maka Pak Belalang pun berjalan kerumahnya. Dia berbaring di tengah rumah sambil menghitung roti kena minyak di dalam kuali”
-       Perahu
“Dia mengayuh mendekati kapal-kapal itu dan mendengar jawabannya dari nakhoda kapal pada tengah malam”
Waktu :
-       Pagi hari
Disuruhnya anaknya pergi menyembunyikan kerbau orang yang sedang membajak di sawah
Suasana :
-       Ramai
Ketika menghadap baginda raja datang kekerajaannya lalu meminta menebak apa yang sedang di pegangnya
-       Hening
Ketika Pak belalang berada di rumahnya lalu merenung sejenak untuk berfikir.

c.     Alur adalah jalan dari sebuah cerita atau susunan peristiwa.
Alur : maju
karena di dalam isi cerpen ini tidak adanya kilas balik di dalam cerita
Tahap Alur
a.        Pengenalan :
ada seorang bapak memiliki anak bernama Belalang, maka dari itu ia di panggil dengan sebutan Pak Belalang. Pak Belalang ini sangatlah miskin kehidupannya.
b.      Penampilan masalah : 
raja di dalam negeri kehilangan tujuh biji peti yang berisi emas, intan, dan lain-lain mata benda yang mahal harganya.
c.       Puncak ketegangan (Klimaks) :
Pak Belalang lalu dipanggil untuk menenungkan harta itu dengan ancaman akan dibunuh, kalau Pak Belalang tidak berhasil.
d.      Ketegangan menurun (Antiklimaks) :
Dengan takdir Allah, pada ketika itu juga kepala pencuri masuk di halaman Pak Belalang. Tatkala Pak Belalang menghitung “tujuh,” ketujuh orang pencuri semuanya sudah masuk ke halaman Pak Belalang. Pencuri-pencuri itu ketakutan. Pada sangka mereka, pastilah Pak Belalang sudah tahu mereka yang mencuri harta baginda.
e.       Penyelesaian (Resolusi) :
Mereka lalu masuk berjumpa Pak Belalang dan mengaku salah. Dengan demikian, Pak Belalng pun lepaslah dari “bahaya” yang mengancamnya dan mendapat hadiah yang banyak sekali. Baginda juga menggelarinya Ahli Nujum.

d.   tokoh adalah orang orang yang diceritakan di dalam cerita.
Tokoh :
-          Pak belalang  :   Pemalas dan ingin serba instan
Pembuktian : Pak Belalang mendapatkan suatu akal untuk memperoleh makanan. Disuruhnya anaknya pergi menyembunyikan kerbau orang yang sedang membajak di sawah.
-           Belalang         :   Penurut
 Pembuktian   :   Si Belalang berbuat seperti suruhan bapaknya.
-           Raja               :   Tegas namun dermawan
Pembuktian  :  - Raja di dalam negeri kehilangan tujuh biji peti yang berisi emas, intan, dan lain-lain mata benda yang mahal harganya. Pak Belalang lalu dipanggil untuk menenungkan harta itu dengan ancaman akan dibunuh.
- Dengan demikian, Pak Belalng pun lepaslah dari “bahaya” yang mengancamnya dan mendapat hadiah yang banyak sekali. Baginda juga menggelarinya Ahli Nujum.

e. kesimpulan inti dari cerita
Kesimpulan Cerita
Cerita Pak Belalang mengisahkan seorang laki-laki pemalas yang memiliki anak bernama Belalang, oleh karena itu ia dipanggil Pak Belalang. Ia berpura-pura menjadi ahli nujum, dan karena berbagai peristiwa yang terjadi secara kebetulan, ia berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit, dan akhirnya menjadi kaya raya.

f.  Amanat pesan atau nasihat yang ingin di sampaikan.
Amanat : Ketika Allah telah mengizinkan / menghendaki maka terjadilah. Maka dari itu tidak ada yang kebetulan di kehidupan ini melainkan semua sudah kehendak Allah, takdir Allah.

2.    Unsur Ekstinsik

-       Nilai-nilai dalam cerita
a.      Nilai Ekonomi
Nilai ekonomi yang terlihat di dalam cerita Pak Belalang ialah, saat sebelum berpura pura menjadi ahli nujum hidup Pak Belalang sangat serba kekurangan, namun setelah berpura pura menjadi ahli nujum hidupnya lebih dari berkecukupan. Lalu sesudah tidak berpura pura lagi menjadi ahli nujum hidupnya berkecukupan.
Bukti : sebelum berpura pura menjadi ahli nujum “Adapun Pak Belalang tiga beranak itu sangat miskin kehidupannya, hampir-hampir tiada apa yang dijadikan makanan.”
Setelah berpura pura menjadi ahli nujum “Pak Belalang berhasil juga melaksanakan tugasnya, dan dikaruniai harta benda yang banyak.”
Sesudah tidak berpura pura lagi menjadi ahli nujum “dia tidak dapat menjadi ahli nujum lagi. Maka Pak Belalang pun tiada bekerja lagi, dikaruniai oleh baginda belanja dengan secukupnya.”

b.      Nilai Budaya
Nilai budaya yang terlihat di dalam cerita ini ialah, adanya sebuah ancaman yang dilontarkan ketika tidak berhasil melaksanakan tugas, dan memberi imbalan ketika berhasil mengerjakan tugas.
Bukti : - Pak Belalang lalu dipanggil untuk menenungkan harta itu dengan ancaman akan dibunuh, kalau Pak Belalang tidak berhasil.
 - Pak Belalng pun lepaslah dari “bahaya” yang mengancamnya dan mendapat hadiah yang banyak sekali. Baginda juga menggelarinya Ahli Nujum.

c.       Nilai Agama
Nilai agama yang terlihat di dalam cerita ini ialah, ketika Pak Belalang bermimpi Nabi Khidir hadir di dalam mimpinya, dan meyakini bahwa semua yang terjadi itu sudah menjadi takdir Allah. 
Bukti : -  Berkat bantuan Nabi Khidir yang datang kepadanya dalam mimpi.
-            Dengan takdir Allah, pada ketika itu juga kepala pencuri   masuk di halaman Pak Belalang.


d.      Nilai Sosial
Nilai sosial yang terliahat di dalam cerita ini ialah, pada saat Pak belalang sudah tidak ingin berpura pura lagi menjadi ahli nujum, dan memutuskan untuk tidak bekerja lagi, namun disini baginda raja tetep memberinya belanja dengan secukupnya.
Bukti : dia tidak menjadi ahli nujum lagi. Maka Pak Belalang pun tiada bekerja lagi, dikaruniai oleh baginda belanja dengan secukupnya.




Daftar Pustaka
Fang, Liaw Yock. 2011. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Catatan pribadi 

Kamis, 06 Juni 2013

karena cinta aku rela berbagi

Sore itu seperti biasa aku mengelilingi kota jogjakarta dengan sepedah kesayangan ku sepedah mana lagi kalau bukan sepedah pemberian alm kakek ku, aku jadi teringat di saat kakek memberikan sepedah itu untuk ku, memang sepedah itu sudah tua tapi jangan salah 100% masih layak pakai, body nya masih oke, besi sepedah engga ada yang karatan secuil pun :D kakek sangat amat merawat sepedah itu maklum sepedah kesayangan. kakek memberikan sepedah itu saat aku duduk di bangku smp kelas 8, wktu itu kakek dalam keadaan sedang sakit. karena kakek sangat amat menyayangi sepedah nya hingga ketika sakit pun kakek masih teringan sepedah nya itu dia takut bila nanti dia sudah tak lagi di dunia sepedah itu tak ada yang merawat nya nah karena cucu yang paling suka berpetualang dan berjalan-jalan itu aku akhir nya kakek putuskan untuk memberikan sepedah kesayangan nya itu pada ku, aku  sangat senang sekali saat itu namun kesenangan itu di  gantikan dengan kesedihan karena  kakek harus meninggal kan aku, nenek, semua anak nya dan cucunya, tapi aku janji dengan kakek akan merawat sepedah kesayangan kakek  dengan baik ;)  .


***

Hal yang paling mengasikan adalah berjalan-jalan mengitari kota jogjakarta menggunakan sepedah keeesayangan, sambil bersantai-santai melihat keramayan di kota tercinta ini :D. aku terus menggoes tiada lelah nya melewati gang-gang sempit hingga melewati jalan-jalan besar  sebut saja jalan raya hehe . namun, mungkin kekurang beruntung nya aku untuk hari ini, aku terjebak hujah di tengah ramai nya kota, hingga aku harus berhenti menggoes dan meneduh menunggu hujan berhenti.


***

Di saat aku sedang berteduh aku melihat toko lukisan, tanpa basa basi aku masuk dan melihat-lihat sebuah karya seni lukis itu . woow ketika aku masuk dan melihat-lihat nya benar-benar sangat indah campuran warna yang lembut namun terlihat seperti nyata. Aku bertanya-tanya dan membayangkan “seorang pelukis yang dapat melukis seindah ini, pasti dia mempunyai imajinasi yang tinggi dan dia juga memiliki tangan yang indah” ujar ku di dalam hati . tapii aku sempat shock ketika aku menoleh ke arah kiri dan melihat kebawah seorang bapak-bapak kira-kira berumur  50an tahun sedang melukis menggunakan kaki, bukan karna dia ingin mencari sensasi tapi memang karna ia tidak mempunyai kedua tangan.  “ permisi pak, boleh saya melihat-lihat lukisan bapak ?  sekalian menunggu hujan berhenti” tegur ku kepada bapak itu,  “ oh silakan ndo  lihat-lihat saja maaf yah kalau memang lukisan saya ini sedikit berantakan, maklum pakai kaki ” jawab nya dengan ramah, “terimakasih pak, oh tidak kok pak lukisan bapak sangat indah dan sangat menarik, saya kagum dengan bapak melukis menggunakan kaki namun hasil nya tidak seperti menggunakan kaki ” . “ ah ndo ini bisa saja, roy roy “ bapak itu memanggil seseorang entah itu siapa, namun ketika muncul . “ iya pak” seru seorang itu. Subhanaallah “maaf pak, itu siapa ?” bisik ku , “ itu anak bapak, roy tolong ambilkan minum untuk tamu kita ini yah” , “ eh engga ush repot-repot pak saya juga ingin pulang, kebetulan hujan nya sudah berhenti, kapan-kapan saya pasti kemari lagi, sekali lagi terimakasih pak, permisi” tanpa ku hirau kan panggilan bapak itu aku cepat-cepat memutar balik kan sepedah ku dan mulai menggoes, aku pun tidak mengerti apa yang membuat ku terburu-buru seperti itu, macam melihat hantu saja :D .


***


Di sepanjang perjalanan pikiran ku masih tertuju pada bapak pelukis dan anak nya, aku tak habis pikir begitu maha adil nya allah kepada hamba-hamba nya di sisi lain bapak itu memiliki kekurangan yang pasti sulit untuk menerima kenyataan tersebut namun di satu sisi lain nya bapak itu memiliki kemampuan, keahlian dan kelebihan yang tidak semua manusia normal dapat melakukannya dan bapak itu juga memiliki seorang anak yang memiliki tubuh yg normal dan bisa di bilang wajah anak itu tampan. tanpa sadar air mata ku tumpah dan mengalir di pipi ku, “ya allah jadikan lah hamba mu ini menjadi hamba yang selalu bersyukur” bisik hati ku . sesampainya di rumah aku membuka kamar papah dan mamah  namun rupanya mereka sudah tertidur pulas aku hanya dapat mencium kening kedua nya, dalam hati berkata “ terimah kasih pah, mah aya janji aya akan jaga kalian sama seperti kalian menjaga aya” 
sebelum aku tidur  seperti biasa aku harus melaksanakan tiang agama yaitu solat.


***

Liburan ini sangat mengasikan walaupun tidak berpergian seperti hal nya orang-orang lakukan di saat liburan sekolah tapi aku sangat menikmati liburan panjang ini, hanya dengan berkeliling dengan sepedah, aku sangat menikmati nya . seperti biasa tak bosan-bosan aku berjalan-jalan dengan sepedah kesayangan ku ini melewati jalan yang sama namun tak ada kata bosan untuk ku . “ maah pahh aya pergi bersepedah dulu yah mamah sama papah hati-hati berangkat kerja nya daah daah papah dadaaah mamah” seru ku di luar rumah, “ iyah sayang kamu juga hati-hati ,pulang nya jangan larut malam seperti kemarin yah” teriak mamah.  aku menggoes sepedah ku menuju tempat toko lukisan yang sebelum nya pernah aku singgahi untuk berteduh saat hujan turun. Tapi kali ini aku datang bukan untuk berteduh melain kan untuk sekedar melihat-lihat lukisan baru bapak itu .


***



“Selamat pagi pak” tegur ku sambil melemparkan senyuman kepadanya, “eh ndo ayu, pagi ndo ada yang bisa bapak bantu?”, “hehe nama saya itu kanaya pak panggil saja saya aya bukan ayu, saya kemari hanya ingin meliahat lihat lukisan bapak yang terbaru, ada kan pak ?”, “ haha maaf yo, bapak kan tadi tidak tau nama mu nak, oh ada-ada sebentar, roy tolong ambilkan lukisan terbaru bapak di gudang penyimpanan lukisan”. Beberapa menit kemudian anak bapak itu datang dengan membawa lukisan yang cukup lebar dan panjang, namun kurasa anak bapak itu tak dapat melihat karena tatapan mata nya benar-benar kosong. “ ini pak, mau di simpan dimana ?”, “di disitu saja roy, simpan saja tidak ada barang-barang apa pun disana”, “iya pak, sudah roy letakan, roy pergi masuk kedalam dulu pak, permisi mba silakan melihat-lihat lukisan nya” seru anak laki-laki itu dengan sangat sopan “oh iyah, eh nama ku kanaya panggil saja aku aya”, “ aku roy, permisi” , “ roy awas itu tembok “,  #dug “ aaauu adduuhh tembok sialan”. Aku hanya tersenyum geli  “hati-hati toh kamu roy klo jalan, di raba-raba dulu dan jangan buru-buru seperti itu ”sahut bapak itu . “iyah pak” jawab roy malu . tidak butuh waktu lama roy pun masuk ke dalam . “ maafin anak bapak yah ndo, dia tidak dapat melihat makanya dia kurang sopan” 
“oh, tidak apa apa pak” jawab ku dengan melemparkan senyuman kepada bapak itu, batin ku berbisik, ya allah menurut ku cobaan yang engkau berikan kepada bapak pelukis itu sangatlah berat, tapi aku yakin engkau tak akan memberikan cobaan pada hamba mu melewati batas kemampuan nya, aku yakin engkau maha adil ya rob. Air mata ku pun tak kuasa jatuh membasahi pipi ku.

***
tidak terasa waktu pun cepat berlalu, senja pun mulai menyapa. "pak aku pulang yah, aku takut pulang kemalaman, makasih karena sudah mengajarkan aku melukis, maaf merepotkan" aku pun berpamitan kepada pak danu, ya bapak pelukis itu bernama pak danu ia memiliki seorang anak laki laki bernama roy, istri pak danu sudah lama meninggal sejak melahirkan roy, bersyukur roy selamat namun tidak untuk istrinya. "oh, iya ndo sama sama, tidak kok ndo tidak merepotkan bapak senang malah ada kamu disini, maaf yah tadi bapak cerita panjang lebar, besok kamu kesini lagi yah" balas pak danu dengan akhiran senyum ramahnya. "tidak apa apa pak, oke siap ! aku pulang yaa pak sampai jumpa besok". "hati hati ndo" teriak pak danu. aku pun mengayuh sepedah ku kembali, melewati jalan yang selalu aku lewati.

***
bersambung