menulis adalah cara ku, bercerita tanpa suara ..

Selasa, 29 Maret 2016

Bait-Bait Jemari

Pertengkaran Batin

Ku tahu ini salah
Salah ku, ku nikmati salah ini
Masih, masih ku nikmati salah ini
Bodoh, cacian ini pantas ku diberikan pada diri ku

Aku tahu namun ku acuh
Aku tahu namun ku nikmati
Aku tahu namun ku terus jalani
Sadar ku, aku belum benar benar sadar

Hati, pikiran ku tak menunjukan kesingkronan
Pikiran ku terus mensugestikan hati ku memaksa ku untuk tetap menikamati salah ini
Kini hati dan pikiran ku berkecamuk
Seakan hati terlanjur menjatuhkan pilihan
Ku tahu pilihan ini salah
Bukan hati nurani yang memilih
Melainkan hati yang telah ternodai nafsu cinta yang berharap

Allah Allah Allah ampuni aku
Atas masih ketidak mudahnya aku untuk mengikuti yang sudah aku ketahui
Kini aku mulai tersadar
Semoga Dia sang pemilik hati mengampuni segala khilafan
Ku belajar memantaskan diri tanpa ingin mengulang kesalahan
Allah lindungi aku, kuat kan iman ku
Agar kelak aku tidak lagi percaya rayuan yang akan menjerumuskan ku
Ku pasrahkan kepada Mu sang pemilik hati sesungguhnya
Pertemukan ku pada cinta halal ku



Seperti Ini ?

Berotak namun tumpu
Bersikap layaknya binatang
Iman kau kemanakan ?
Hati nurani apa kau umpatkan ?
Meliahat diri, manusia
Namun seperti hanya menjelema saja
Berfikir kau pendekan
Sikap penuh pemberontakan
Kau lupa akan iman
Hati nurani pun kau menutuonya
Apa seperti ini gambaran manusia akhir zaman ?




by : Ratu ana sofiana 


.

Jumat, 19 Februari 2016

kupilih diam atas sabar dan pasrah ku

apa yang bisa aku lakukan untuk meluapkan segala yang terekam di otak ku, tentang  pikiran-pikiran bodoh, ya bodoh pikiran yang seahurusnya bisa untuk tidak dipikirkan namun pada kenyataanya terpikirkan. dengan cara apa aku bisa meluapkannya, apa yang bisa aku lakuakan, berucap ku tak mampu, meluapkannya dengan amarah tak akan berujung, ku ambil jalan tengahnya ketika bibir tak bisa untuk berucap ku salurkan melalui mata dan jariku, ku biarkan mata ku yang berbicara dan jari ini yang mengartikannya.
sabar itu pada dasarnya tak berujung,tak terbatas. hanya saja manusia itu sendiri yang membuatnya jadi berujung dan terbatas. Ya, karena pada dasarnya manusia tak terlepas dari ujian hidup, tak luput pula dari khilafan. Ujian menandakan hidup, yang hidup tanpa diuji mustahil. masih menerima ujian berarti masih diberi kesempatan hidup untuk perbaikan diri.
berkaca dari kehidupan bahwa kesabaran itu memang selalu berakhir manis, selalu, selalu, dan selalu manis, asalkan kita memiliki keyakinan bahwa setiap yang dirasa tak akan abadi,begitu pula dengan hidup memiliki titik akhir dimana kita akan berhenti karena dihentikan. Semua memiliki masa yang akan berganti.
saat ini,seperti yang dikatakan oleh fiersa besari "dan hari ini, aku belajar untuk lebih bersabar dengan cara yang tak terduga" ya, aku belajar lebih tentang sabar dengan cara yang tak aku duga dengan berbagai macam masalah yang sebenarnya pikiran ku yang membuat hal itu menjadi masalah,aku sendiri yang membuat masalah,itu sebabnya aku sendiri yang harus belajar memahami masalah ku dan bersabar atas masalah yang aku buat. namun memang tak akan jadi masalah ketika tidak ada sosok yang memancing pikiran ku untuk ku buatnya masalah. 
disini pada akhirnya sabar ku hanya diam, diam dalam segala ego ku, menahan lebih tepatnya,menahan hingga sampai pada akhirnya menahan ku, ku jadikan dengan kepasrahan. aku pasrah, tak ingin ku berharap yang terlau kepada manusia, biarkan Allah lah yang menjadi peran penting atas sekenario kehidupan ku.
Yang terbaik yang diberikannya akan datang, dan jika sudah datang ia sudah pasti akan menetap. sekeras apa pun ku berusaha untuk menahanya untuk tidak membiarkan pergi dan menahan untuk tetap tinggal jika memang bukan yang terbaik akan selalu ada cara untuk dipisahkan. begitu pula sebaliknya. disini memang ada baiknya aku memilih untuk bersabar dan pasrah atas segala ingin ku. Ketika keinginan ku tadak terwujud dan diwujudkanya diluar ingin ku itu berarti yang terwujud sebenarnya dari apa yang aku butuhkan. Pada kenyataannya Allah hanya akan selalu memberikan apa yang sebenarnya yang dibutuhkan oleh hambanya bukan apa yang diinginkan oleh hambanya. karena pada dasarnya keinginan hanyalah ego manusia yang belum tentu itu menjadi baik untuk dirinya. 

Jumat, 27 Februari 2015

Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Cerita Pak Belalang

CERITA PAK BELALANG

Tersebutlah perkataan seseorang peladang tiga beranak, anaknya laki-laki dinamainya Belalang. Oleh sebab itu, semua orang memanggil peladang itu Pak Belalang. Adapun Pak Belalang tiga beranak itu sangat miskin kehidupannya, hampir-hampir tiada apa yang dijadikan makanan.
Pada suatu hari, Pak Belalang mendapatkan suatu akal untuk memperoleh makanan. Disuruhnya anaknya pergi menyembunyikan kerbau orang yang sedang membajak di sawah, kemudian mengabarkan bahwa dia pandai bertenung mencari tempat itu. Si Belalang berbuat seperti suruhan bapaknya. Dengan demikian, Pak Belalang pun mendapat makanan beras, padi, tembakau dan ikan sebagai hadiah. Maka mansyurlah nama Pak Belalang sebagai orang yang pandai bertenung.
Sekali peristiwa, raja di dalam negeri kehilangan tujuh biji peti yang berisi emas, intan, dan lain-lain mata benda yang mahal harganya. Pak Belalang lalu dipanggil untuk menenungkan harta itu dengan ancaman akan dibunuh, kalau Pak Belalang tidak berhasil. Maka Pak Belalang pun berjalan kerumahnya. Dia berbaring di tengah rumah sambil menghitung roti kena minyak di dalam kuali, dan berkata “satu,” menghitung roti. Dengan takdir Allah, pada ketika itu juga kepala pencuri masuk di halaman Pak Belalang. Tatkala Pak Belalang menghitung “tujuh,” ketujuh orang pencuri semuanya sudah masuk ke halaman Pak Belalang. Pencuri-pencuri itu ketakutan. Pada sangka mereka, pastilah Pak Belalang sudah tahu mereka yang mencuri harta baginda. Mereka lalu masuk berjumpa Pak Belalang dan mengaku salah. Dengan demikian, Pak Belalng pun lepaslah dari “bahaya” yang mengancamnya dan mendapat hadiah yang banyak sekali. Baginda juga menggelarinya Ahli Nujum.
Hatta datang pula dua orang nakhoda, seorang membawa itik dan meminta mengenalkan jantan betinanya, seorang lagi membawa kayu yang licin bulat dan meminta baginda menentukan ujung pangkalnya. Kedua teka-teki ini diselesaikan Pak Belalang dengan cara yang kebetulan sekali. Dia mengayuh mendekati kapal-kapal itu dan mendengar jawabannya dari nakhoda kapal pada tengah malam. Sekali peristiwa, istri anak raja di negeri Askalan Rum yang baru kawin tujuh hilang dicuri oelh jin. Pak Belalang lalu dijemput ke negeri itu untuk mencari istri anak raja yang hilang. Berkat bantuan Nabi Khidir yang datang kepadanya dalam mimpi, dia berhasil juga melaksanakan tugasnya, dan dikaruniai harta benda yang banyak.
Sekali lagi Pak Belalang diancam dengan ancaman dibunuh, kalau tidak dapat menerka apa yang di dalam genggaman baginda. Pak Belalang tidak dapat menerka. Pada perasaan hatinya, matilah ia kali ini. Sambil menangis mengenang anaknya yang bernama Si Belalang, dia pun berkata, “Matilah aku, tinggallah, anakku, Belalang” yang di dalam genggaman baginda itu kebetulan adalah seekor belalang. Maka Pak Belalang pun pulang ke rumahnya seraya berpikir didalam hatinya, “Jikalau demikian halnya, baiklah aku bakar rumah ini supaya boleh kukatakan surat-surat ilmuku terbakar sekali dan supaya sentosa kehidupanku, tiada diperiksa baginda lagi.” Maka pada malah hari, Pak Belalang pun membakar rumahnya dan berkata bahwa surat ilmu nujumnya sudah terbakar dan dia tidak dapat menjadi ahli nujum lagi. Maka Pak Belalang pun tiada bekerja lagi, dikaruniai oleh baginda belanja dengan secukupnya.
  


1.    Unsur Intrinsik Cerita Pak Belalang

a.       Tema adalah ide pokok sebuah cerita, yang diyakini dan dijadikan sumber sebuah cerita.
Tema : Kebetulan itu adalah takdir.

b.      Latar  adalah tempat, waktu, suasana yang terdapat dalam cerita.
Latar : 
Tempat :
-       Sawah
Pada suatu hari, Pak Belalang mendapatkan suatu akal untuk memperoleh makanan. Disuruhnya anaknya pergi menyembunyikan kerbau orang yang sedang membajak di sawah”
-       Rumah
“Maka Pak Belalang pun berjalan kerumahnya. Dia berbaring di tengah rumah sambil menghitung roti kena minyak di dalam kuali”
-       Perahu
“Dia mengayuh mendekati kapal-kapal itu dan mendengar jawabannya dari nakhoda kapal pada tengah malam”
Waktu :
-       Pagi hari
Disuruhnya anaknya pergi menyembunyikan kerbau orang yang sedang membajak di sawah
Suasana :
-       Ramai
Ketika menghadap baginda raja datang kekerajaannya lalu meminta menebak apa yang sedang di pegangnya
-       Hening
Ketika Pak belalang berada di rumahnya lalu merenung sejenak untuk berfikir.

c.     Alur adalah jalan dari sebuah cerita atau susunan peristiwa.
Alur : maju
karena di dalam isi cerpen ini tidak adanya kilas balik di dalam cerita
Tahap Alur
a.        Pengenalan :
ada seorang bapak memiliki anak bernama Belalang, maka dari itu ia di panggil dengan sebutan Pak Belalang. Pak Belalang ini sangatlah miskin kehidupannya.
b.      Penampilan masalah : 
raja di dalam negeri kehilangan tujuh biji peti yang berisi emas, intan, dan lain-lain mata benda yang mahal harganya.
c.       Puncak ketegangan (Klimaks) :
Pak Belalang lalu dipanggil untuk menenungkan harta itu dengan ancaman akan dibunuh, kalau Pak Belalang tidak berhasil.
d.      Ketegangan menurun (Antiklimaks) :
Dengan takdir Allah, pada ketika itu juga kepala pencuri masuk di halaman Pak Belalang. Tatkala Pak Belalang menghitung “tujuh,” ketujuh orang pencuri semuanya sudah masuk ke halaman Pak Belalang. Pencuri-pencuri itu ketakutan. Pada sangka mereka, pastilah Pak Belalang sudah tahu mereka yang mencuri harta baginda.
e.       Penyelesaian (Resolusi) :
Mereka lalu masuk berjumpa Pak Belalang dan mengaku salah. Dengan demikian, Pak Belalng pun lepaslah dari “bahaya” yang mengancamnya dan mendapat hadiah yang banyak sekali. Baginda juga menggelarinya Ahli Nujum.

d.   tokoh adalah orang orang yang diceritakan di dalam cerita.
Tokoh :
-          Pak belalang  :   Pemalas dan ingin serba instan
Pembuktian : Pak Belalang mendapatkan suatu akal untuk memperoleh makanan. Disuruhnya anaknya pergi menyembunyikan kerbau orang yang sedang membajak di sawah.
-           Belalang         :   Penurut
 Pembuktian   :   Si Belalang berbuat seperti suruhan bapaknya.
-           Raja               :   Tegas namun dermawan
Pembuktian  :  - Raja di dalam negeri kehilangan tujuh biji peti yang berisi emas, intan, dan lain-lain mata benda yang mahal harganya. Pak Belalang lalu dipanggil untuk menenungkan harta itu dengan ancaman akan dibunuh.
- Dengan demikian, Pak Belalng pun lepaslah dari “bahaya” yang mengancamnya dan mendapat hadiah yang banyak sekali. Baginda juga menggelarinya Ahli Nujum.

e. kesimpulan inti dari cerita
Kesimpulan Cerita
Cerita Pak Belalang mengisahkan seorang laki-laki pemalas yang memiliki anak bernama Belalang, oleh karena itu ia dipanggil Pak Belalang. Ia berpura-pura menjadi ahli nujum, dan karena berbagai peristiwa yang terjadi secara kebetulan, ia berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit, dan akhirnya menjadi kaya raya.

f.  Amanat pesan atau nasihat yang ingin di sampaikan.
Amanat : Ketika Allah telah mengizinkan / menghendaki maka terjadilah. Maka dari itu tidak ada yang kebetulan di kehidupan ini melainkan semua sudah kehendak Allah, takdir Allah.

2.    Unsur Ekstinsik

-       Nilai-nilai dalam cerita
a.      Nilai Ekonomi
Nilai ekonomi yang terlihat di dalam cerita Pak Belalang ialah, saat sebelum berpura pura menjadi ahli nujum hidup Pak Belalang sangat serba kekurangan, namun setelah berpura pura menjadi ahli nujum hidupnya lebih dari berkecukupan. Lalu sesudah tidak berpura pura lagi menjadi ahli nujum hidupnya berkecukupan.
Bukti : sebelum berpura pura menjadi ahli nujum “Adapun Pak Belalang tiga beranak itu sangat miskin kehidupannya, hampir-hampir tiada apa yang dijadikan makanan.”
Setelah berpura pura menjadi ahli nujum “Pak Belalang berhasil juga melaksanakan tugasnya, dan dikaruniai harta benda yang banyak.”
Sesudah tidak berpura pura lagi menjadi ahli nujum “dia tidak dapat menjadi ahli nujum lagi. Maka Pak Belalang pun tiada bekerja lagi, dikaruniai oleh baginda belanja dengan secukupnya.”

b.      Nilai Budaya
Nilai budaya yang terlihat di dalam cerita ini ialah, adanya sebuah ancaman yang dilontarkan ketika tidak berhasil melaksanakan tugas, dan memberi imbalan ketika berhasil mengerjakan tugas.
Bukti : - Pak Belalang lalu dipanggil untuk menenungkan harta itu dengan ancaman akan dibunuh, kalau Pak Belalang tidak berhasil.
 - Pak Belalng pun lepaslah dari “bahaya” yang mengancamnya dan mendapat hadiah yang banyak sekali. Baginda juga menggelarinya Ahli Nujum.

c.       Nilai Agama
Nilai agama yang terlihat di dalam cerita ini ialah, ketika Pak Belalang bermimpi Nabi Khidir hadir di dalam mimpinya, dan meyakini bahwa semua yang terjadi itu sudah menjadi takdir Allah. 
Bukti : -  Berkat bantuan Nabi Khidir yang datang kepadanya dalam mimpi.
-            Dengan takdir Allah, pada ketika itu juga kepala pencuri   masuk di halaman Pak Belalang.


d.      Nilai Sosial
Nilai sosial yang terliahat di dalam cerita ini ialah, pada saat Pak belalang sudah tidak ingin berpura pura lagi menjadi ahli nujum, dan memutuskan untuk tidak bekerja lagi, namun disini baginda raja tetep memberinya belanja dengan secukupnya.
Bukti : dia tidak menjadi ahli nujum lagi. Maka Pak Belalang pun tiada bekerja lagi, dikaruniai oleh baginda belanja dengan secukupnya.




Daftar Pustaka
Fang, Liaw Yock. 2011. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Catatan pribadi